Sabtu, 07 November 2009

LOMBA MENULIS CERPEN SE DIY

LOMBA MENULIS CERPEN SE DIY

MEMPEREBUTKAN TROPY REKTOR UGM DAN AKAN DITAMPILAKAN PADA MAJALAH MUSLIMAH GIRLIEZONE

Tema : : “Menjadi Muslimah Cerdas, kreatif dan inovatif”

Kriteria Lomba :

  1. Peserta adalah pelajar SMA/sederajat, mahasiswi, dan umum

  2. Isi cerpen harus disesuaikan dengan tema dan tidak mengandung unsur SARA, atau hal-hal yang dapat menyinggung pihak-pihak tertentu.

  3. Cerpen yang diikutkan dalam lomba ini belum pernah dipublikasikan atau diikutkan dalam lomba lainya.

  4. Panjang tulisan minimal 2 halaman kertas A4

  5. Jenis huruf yang digunakan : Times New Roman; paragraph 1,5; size 12 pt

  6. Semua tulisan menjadi hak panitia

  7. Tulisan dikirim dalam bentuk soft copy dan hard copy

Soft copy ke alamat email mf09kmfmugm@yahoo.com maksimal tanggal 15 November 2009

  • Subject : LOMBA CERPEN MF

  • Disertai : Identitas Diri (Nama, Asal fakultas, No.Hp)

Hard copy dikirim(cukup rangkap 1 saja) disertai fotocopy kartu mahasiswa ke panitia MF (di Mushola MIPA UTARA FMIPA UGM) maksimal tanggal 15 November 2009

Read More...

LOMBA NASYID MUSLIMAH SE-DIY

LOMBA NASYID MUSLIMAH SE-DIY

Pelaksanaan : Sabtu, 14 September 2009
Tempat : Ruang T2.01 FMIPA Selatan UGM
Waktu: 08.00-12.00
Tema : Alunan Syahdu, merengkuh qalbu, INSPIRASI HIDUPKU

Persyaratan Lomba Nasyid :
1.Peserta Lomba Nasyid Muslimah terbuka untuk pelajar , SMA/sederajat, mahasiswi, dan umum.
2.Peserta berdomisili di DIY/mewkili sekolah/universitas/instansi tertentu di DIY.
3.Pendaftaran peserta dilakukan via email ke alamat email mf09kmfmugm@yahoo.com , dengan mengirimkan data-data sebagai berikut:
  • Menuliskan Nama Grup Nasyid
  • Menuliskan Asal Grup Nasyid
  • Menuliskan Nama lengkap anggota + No. Hp ( Cp yang bisa di hubungi)
  • Subject diisi : LOMBA NASYID MF
  • (pendaftaran via email maksimal sampai tanggal 9 November 2009)
4.Peserta membawakan 1 lagu wajib dan satu lagu pilihan.
5.Panitia tidak menyediakan alat musik dalam bentuk apapun, kebutuhan alat musik diserahkan sepenuhnya kepada peserta. (panitia hanya menyediakan sound)
6.Peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 20.000,00 per grup.
7.Pembayaran bisa dilakukan pada waktu Technical Meeting yang akan dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Senin, 9 November 2009
Pukul : 16.00 WIB
Tempat : Mushola MIPA Utara FMIPA UGM
( untuk technical meeting, setiap grup wajib mengirimkan perwakilan)

Ketentuan Lomba :
  1. Peserta datang 1 jam sebelum acara dimulai untuk registrasi ulang dan mengambil undian lomba
  2. Menyanyikan lagu wajib : Give Thanks to Allah
  3. Menyanyikan lagu pilihan. (Lagu pilhan diserahkan sepenuhnya kepada peserta, namun menyesuaikan dengan tema kegiatan ,untuk kemudian menjelaskan maksud pemilihan lagu tersebut)
  4. Durasi maksimal 15 menit per grup
  5. Peserta berpakaian syar’i, sopan dan rapi.
HADIAH :
Juara I : Trophy Gubernur DIY, piagam, uang *)
Juara II : Trophy DEPAG DIY, piagam,uang *)
Juara III : Trophy Bupati Sleman, piagam, uang
*)

info:085228259093 Read More...

SEMINAR NASIONAL KEMUSLIMAHAN

SEMINAR NASIONAL KEMUSLIMAHAN

Tema : ”Sehat jasmani dan rohani , sarana efektif mengembangkan potensi diri’

Tempat : Ruang Multimedia FMIPA UTARA UGM

Tanggal : 21 November 2009

Pembicara : Pembicara Marwah daud Asma Nadia

Waktu : 07.30-12.00 WIB


1.Syarat pendaftaran :

  • via SMS : SEMNASMF_NAMA LENGKAP_INSTANSI/UNIVERSITAS kirim ke no : 085647280968
  • Daftar langsung di MUSHOLA MIPA UTARA FMIPA UGM

(MAKSIMAL PENDAFTARAN TANGGAL 20 NOVEMBER)

2.terbatas untuk 100 peserta

3.Syarat harus mengikuti 2/3 acara

  • Kontribusi : pelajar/mahasiswi :20.000
  • S2/Umum : 30.000

4. mendapatkan Fasilitas : Sertifikat, Seminar kit, Snack, Ilmu, Hiburan, teman


Informasi : 08562854061

Read More...

Senin, 12 Oktober 2009

Hindari Bencana, Waspadai Sikap Thagha!

Kehancuran bangsa-bangsa yang pernah jaya pada zaman dahulu pemicunya adalah melestarikan sikap thagha

Oleh: Sholih Hasyim

Hidayatullah.com--Salah satu proses dan persiapan spiritual yang wajib dilalui bagi santri baru di pesantren Hidayatullah pada awal perintisannya, adalah menepis dan mengikis sikap tagha. Tidak pandang bulu baik santri yang memiliki latar belakang akademis umum, ataupun pesantren, keturunan orang yang hidupnya pas-pasan ataupun berlebih, mereka harus melewati masa orientasi yang sama dengan penuh kesadaran dan kesabaran.

Tujuan utamanya adalah An yurawwidhahum awwalan wa yuhadzdzibahum bil ta’dib (dijinakkan dan disucikan hatinya terlebih dahulu melalui ta’dib – latihan kesopanan lahir dan batin -), meminjam istilah Syed Naquib Al-Attas. Para santri ditempatkan pada posisi yang kontradiktif dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman sebelumnya. Santri dilatih sepi ing pamrih rame ing gawe (berorientasi pada amal shalih tanpa hiruk pikuk, bukan jabatan). Mengisi bak wudhu dan bak mandi, membajak sawah, menggali empang, membantu tukang, mencari dan mengambil donatur, mengasuh dan mencarikan dana anak asuh, kepala dapur umum, kepala kampus, dll. Qaddimil khidmah qablal ‘ilm (dahulukan pengabdian sebelum mencari ilmu), meminjam ucapan ahli hikmah.

Semua proses itu dilakukan agar hati santri disterilkan dari pengaruh kontaminasi Tagha. Menepis (membuang) dan mengikis (melenyapkan) sikap tidak tahu diri tersebut. Sebab virus itu menurunkan tiga induk perbuatan dosa yang menjadi pemicu perbuatan maksiat sepanjang masa. Yakni, serakah yang diwariskan oleh Adam as, sombong yang ditularkan oleh iblis, dan dengki yang diperagakan oleh Qabil terhadap adiknya Habil karena berebut wanita. Dengan mengosongkan hati dari berbagai virus tersebut, memperlancar memperoleh ilmu (hidayah) yang bermanfaat, yang membela pemiliknya pada hari kiamat (hujjatun lahu). Sedangkan ilmu yang dijauhkan dari adab akan menghujat pemiliknya pada Mahkamah Ilahi kelak (hujjatun ‘alaih).

Tagha adalah sikap melampaui batas. Memiliki ilmu sedikit merasa sudah paling ahli, sementara orang lain dianggap bodoh. Menduduki jabatan tertentu merasa diri lebih unggul derajatnya dari orang lain. Mempersepsikan bahwa harta yang dimilikinya efek dari penguasaannya dalam teori-teori ekonomi. Bukan karunia dari Allah Swt, seperti perilaku Qarun. Yang menjadi standar penilaian orang yang thagha adalah asesoris (atribut) lahiriyah.

Sikap tagha menjadi kewaspadaan tingkat tinggi bagi pesantren itu karena dinilai sebagai batu sandungan utama kesuksesan seseorang di dunia dan keselamatannya di akhirat.

“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.” (QS. An-Naba (78) : 21-22).

Air yang sudah meluber disebut thaghal maa’ seperti diisyaratkan dalam Al-Quran Surat Al-Haqqah (69) ayat 11.

“Sesungguhnya kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera (yang dibawa dalam bahtera Nabi Nuh untuk diselamatkan ialah keluarga Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman selain anaknya yang durhaka).”

“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq (96) : 6-7).
Sikap tagha sesungguhnya mewarisi karakter asli Fir’aun, dan indikator orang yang menutup diri dari kebenaran (kafir). Orang yang terjangkit virus rohani yang ganas tersebut akan mengalami stagnasi, berjiwa kerdil, sehingga lambat dalam merespon perubahan. Karena merasa cukup, tidak memberi peluang yang luas untuk pengembangan dirinya. Efeknya ia merasa tidak perlu banyak mencari tahu dan belajar.

“Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia (Fir’aun) segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." (QS. Thaha (20 ) : 45).

Kehancuran bangsa-bangsa yang pernah jaya pada zaman dahulu pemicunya adalah melestarikan sikap thagha.

“Dan kaum Tsamud maka tidak seorang pun yang ditinggalkannya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka.” (QS. An Najm (53) : 51-52).

Sikap thagha menutup pintu masuknya hidayah. Sehingga kehidupan pelakunya tidak terarah.

“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS. Al Baqarah (15).

Banyak macam dan model thagha atau sombong. Ada thagha karena ilmu, prestasi, kekuasaan atau kekayaan yang digenggamannya. Tetapi sombong yang tidak beralasan, lebih dimurkai oleh Allah Swt. Misalnya, miskin berpenampilan kaya (‘aa-ilun mistakbar), bodoh yang berperilaku pandai (jahilun murakkab), rakyat berlagak elit (kementhus, red), berwajah biasa-biasa bergaya seperti orang yang terkenal ketampanannya (kemagus, red). Mengakui prestasi orang lain, yang bukan hasil karyanya. Orang tua yang senang main perempuan (syaikhun zan). Tua-tua keladi, makin tua semakin menjadi-jadi dorongan libidio seksualnya. Padahal pada umumnya semakin bertambah usia, berkurang umurnya. Dorongan untuk berbuat baik lebih kuat dibandingkan dorongan untuk berbuat jahat. Tua-tua berbudi, makin tua makin mengabdi.

Thagha Hanya Milik Allah Swt

Keagungan adalah sarung-KU, kesombongan adalah pakaian-KU, maka siapa yang merebutnya dari-KU niscaya Aku akan menyiksanya.” (HR. Muslim).

Sikap thagha adalah mengundang siksa Allah Swt, itulah makna tersirat dalam hadits Qudsi di atas. Pembuktian bahwa sikap thagha mengundang azab Allah terkuak dalam kisah-kisah yang tersurat dalam Al-Quran.

Sebut saja kisah Fir’aun. Raja sombong dan jago thagha yang memproklamasikan dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi ini dibinasakan Allah Swt di bumi milik-Nya dengan cara diombang-ambingkan oleh ombak setinggi gunung bagaikan bola ping-pong saat mengejar pengikut Nabi Musa as.

Thagha merupakan virus yang mematikan hati. Seseorang yang mengidap virus ini, sekalipun hanya setitik, dijamin masuk neraka.

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كاَنَ فِي قَلْبِهِ مِثْقاَلُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبَرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong meski hanya sebesar biji sawi.” (HR. Abu Dawud).

Kita mewaspadai sikap thagha, karena pada prinsipnya yang berhak memiliki sikap unggul, paling suci hanyalah Allah Swt. Karena Dia memiliki segala sifat kesempurnaan, kemuliaan. Jauh dari segala sifat kelemahan dan kekurangan. Sedangkan manusia tidak layak untuk bersikap thagha, karena dirinya adalah tempat salah dan lupa (mahallul khatha’i wan Nisyan). Lubang qubul (muka), dubur (belakang), mata, telinga, hidung dan mulut, semuanya mengeluarkan kotoran. Manusia itu pada asalnya hina, miskin, lemah, bodoh.

Virus thagha juga dapat merusak tatanan kehidupan sosial. Sebab, salah satu karakter dasar sombong adalah menganggap dirinya lebih baik dan mulia dan meremehkan orang lain (al-Kibr batharul haq wa ghamthun Nas). Selalu merendahkan orang lain, meremehkan, membelakangi, dan menjauhinya. Bila ada yang memberikan kritik (nasihat) dipandang sebagai intrik (politik menjatuhkan). Dari sifat ini umumnya menjelma menjadi perilaku yang berpotensi melahirkan kedengkian, dendam, dan permusuhan.

Dalam konteks kekinian betapa banyak masyarakat yang terjangkiti penyakit yang diwariskan oleh iblis ini. Alangkah banyaknya yang berbangga dengan etnis, golongan dan kelompok serta partainya. Yang benar adalah islamiyah qabla hizbiyyah (mengedepankan atribut keislaman sebelum simbol kepartaian) .  

Al-Quran mengkritik orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap dirinya suci dan makhluk pilihan Allah Swt.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikit pun.” (QS. An Nisa (4) : 49).

“Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. Al Baqarah (2) : 80).

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (QS. Al Baqarah (2) : 111).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (QS. Al Maidah (5) : 18).

Tidak masalah kita menyebut amal yang selesai kita lakukan dalam kerangka at-Tahadduts bin Nikmah (mensyukuri nikmat). Karena kenikmatan itu kita kembalikan kepada-Nya, bukan semata-mata hasil kerja keras kita.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha (93) : 11).

Atau menceritakan kebaikan untuk memotivasi orang lain agar mengikutinya, bukan minta sanjungan dan pujian.

“Barangsiapa mempelopori kebiasaan (tradisi) yang baik, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sesudahnya.” (HR. Muslim).

Meneladani Pendahulu Kita

Semestinya kita malu dengan Rasulullah Saw, para shiddiqun (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang meninggal dalam keadaan syahid), dan sholihun (orang-orang yang shalih). Mereka adalah figur publik yang patut diteladani. Sekalipun Rasulullah Saw memiliki posisi yang tinggi di sisi-Nya (maqaman mahmudaan), beliau selalu bersikap tawadhu’ (rendah hati).

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin [orang-orang yang teguh keyakinannya kepada kebenaran rasul], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa (4) : 69).

Kehidupan manusia pilihan itu diwarnai tawadhu’ (rendah hati) dan khudhu’ (hati yang tunduk). Kebalikan dari sifat thagha dan sombong. Tawadhu’ berasal dari kata “adl-dla’ah” yang berarti kerelaan terhadap kedudukan yang lebih rendah dari kapasitas, bakat dan kompetensi yang dimilikinya. Rendah hati terhadap orang lain. Selalu mengedepankan jiwa besar, luber, dan legowo dengan sesama. Dan mau mendengar, menerima kebenaran apapun bentuknya, dan dari mana pun asalnya. Rendah hati berbeda dengan rendah diri.

Justru dengan mentradisikan sifat tawadhu, Allah Swt akan mengangkat derajat kita dan orang lain akan mencintai kita. Sesungguhnya fitrah manusia itu mengakui kebaikan yang dikenali hati (ma’ruf) dan mengingkari perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani (munkar). Senang dengan sikap tawadhu dan membenci sikap thagha dan kesombongan.

Kiat Mengikis Thagha

Bagaimanakah caranya kita dapat menghadirkan sifat tawadhu’ (rendah hati)? Ada empat kiat yang biasa dilakukan Rasulullah Saw untuk mendatangkan akhlak terpuji tersebut.

Pertama, mengenali diri. Bila kita melihat asal usul kita berasal dari air sperma (nuthfah). Jika dibungkus dengan kertas yang antik, untuk hadiah ulang tahun, tiada seorang pun yang bersedia menerimanya. Bahan baku kita adalah qatharat (percikan-percikan) fasharat insanan (maka menjadi manusia) dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Kedua, bergaul dengan orang-orang miskin, dan anak-anak yatim. Selain menimbulkan rasa empati dan peduli kepada fakir miskin, kita akan pandai bersyukur kepada Allah Swt atas berbagai karunia yang kita peroleh. Dengan akrab bergaul dengan anak-anak yatim, hati kita akan menjadi lembut.

Ketiga, sesekali berpakaian lusuh. Cara ini akan melatih kita merasakan memakai pakaian yang tak beralasan untuk dibanggakan dan ditonjolkan. Menjauhi atribut kemewahan dan kegemerlapan.

Keempat, mengerjakan pekerjaan sendiri. Bila kita mampu mengerjakan sendiri, mengapa kita meminta bantuan orang lain. Rasulullah Saw seringkali membantu pekerjaan istrinya memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan rumah, merawat anak, menjahit baju, memberi makan ternaknya, menggiling gandum bergiliran dengan pembantunya, berbelanja ke pasar, menggali parit bersama para sahabatnya ketika perang Khondaq, mengumpulkan kayu bakar untuk memasak, berjabat tangan dengan orang kaya dan miskin, segala umur, dll. Itulah Rasullah yang tawadhu', sederhana dan berendah hati. [SH/www.hidayatullahj.com]

* Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com

  Read More...

Sabtu, 10 Oktober 2009

Dahulukan Ilmu Fardhu ‘Ain dalam Mencari Ilmu

Banyak orang Islam lalai. Berlomba-loma mencari ilmu yang tidak wajib, tapi justru lalai dengan yang wajib (fardhu ‘ain)

Hidayatullah.com--“Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain yang ahlinya bagaikan menggantungkan permata mutiara dan emas pada babi hutan,” ucap Rasulullah saw sebagai disampaikan dalam HR. Ibnu Majah.

Dalam sebah hadits lain, Rasulullah bersabda. “Barangsiapa yang kedatangan ajal, sedang ia masih menuntut ilmu, maka ia akan bertemu dengan Allah di mana tidak ada jarak antara dia dan antara para nabi kecuali satu derajat kenabian.” (HR. Thabrani).

Mencari ilmu adalah amal yang mulia dan terpuji dalam Islam. Sebab dengan ilmu-lah seseorang dapat menghindari larangan Allah, menjalankan perintah-Nya dan mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil. Karena itulah, dalam banyak hadits disebutkan, para malaikat selalu melindungi orang-orang yang sedang menuntut ilmu. Dan kelak di hadapan Allah mereka mendapat kemuliaan yang hanya terpaut satu derajat dengan para nabi.

Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Akan tetapi, akhlaq mencari ilmu kaum Muslim berbeda dengan kaum yang lain. Orang mukmin, perlu mengetahui adab-adabnya, sehingga ilmu yang diperoleh berbarakah dan mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala. Berikut, beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu.

1. Ikhlas

Sabda Rasulullah Shallallah Alaiahi Wasallam (SAW),”Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya…” (Riwayat Bukhari). Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama memiliki kebiasaan menulis hadits tersebut di awal pembahasan, guna mengingatkan para pencari ilmu agar meluruskan niat mereka sebelum menelaah kitab tersebut.

2. Mengutamakan Ilmu wajib, baru ilmu lain

Handaknya penuntut ilmu mengutamakan ilmu yang hukumnya fardhu ain (wajib yang tidak boleh diganti orang lain) untuk dipelajari terlebih dahulu, khususnya masalah agama. Semisal masalah akidah, halal-haram, kewajiban yang dibebankan kepada muslim, maupun larangannya. Sebab itulah, orang tua harus mengajarkan hal itu kepada anak mereka, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, yang artinya,”Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At Tahrim [66]:6 ).

Setelah mempelajari ilmu yang hukumnya fardhu ain, boleh mempelajari ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, seperti mengahafal Al Qur`an dan Hadits, nahwu, ushul fikih dan lainnya. Selanjutnya ilmu-ilmu yang bersifat sunnah, seperti penguasaan salah satu cabang ilmu secara mendalam.

3. Meninggalkan Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Tidak semua ilmu boleh dipelajari, karena ada ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, atau bahkan ilmu yang bisa menjerumuskan orang yang mempelajarinya kepada keburukan. Oleh sebab itu, dilarang bagi seorang Muslim mempelajari sihir, karena bisa menjadi jalan menuju kekufuran. Firman Allah, yang maknanya, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut...” (Al Baqarah [2]: 102).

4. Menghormati Ulama dan Guru

Rasulullah (SAW) bersabda,”Barang siapa menyakiti waliku, maka Aku telah mengumandangkan perang kepadanya.” (Riwayat Bukhari). Imam As Syafi’i dan Abu Hanifah pernah mengatakan,”Jika para fuqaha bukan wali Allah, maka Allah tidak memiliki wali.” Begitulah akhlaq mulia Islam menghormati guru-guru kita.

5. Tidak Malu dalam Menuntut Ilmu

Sifat malu dan gengsi, bisa menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh ilmu. Oleh karena itu, para ulama menasehati agar kedua sifat itu ditanggalkan, hingga pengetahuan yang bermanfaat bisa didapat. Aisyah (RA) pernah mengatakan dalam As Shahih,”Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka mencari ilmu.”

6. Memanfaatkan Waktu dengan Baik

Hendaknya pencari ilmu tidak menyia-nyiakan waktu, hingga terlewatkan kesempatan belajar.Ulama besar seperti Imam Bukhari, bisa dijadikan contoh tauladan dalam hal ini. Diriwayatkan bahwa beliau menyalakan lentera lebih dari 20 kali dalam semalam, untuk menyalin hadits yang telah beliau peroleh. Artinya, beliau amat menghargai waktu, malam hari pun tidak beliau lewatkan, kecuali untuk menimba ilmu.

7. Bermujahadah dalam Mencari Ilmu

Para ulama terdahulu, tidaklah berantai-santai dalam mencari ilmu, sebab itulah, saat ini kita bisa memanfaatkan karya-karya mereka yang amat berbobot. Tentu, kalau kita menginginkan memiliki ilmu sebagaimana ilmu yang mereka miliki, maka kita juga harus bersungguh-sungguh, seperti kesungguhan yang telah mereka lakukan.

Ada yang mengatakan kepada Imam Ahmad, saat beliau terlihat tidak kenal lelah dalam mencari ilmu,”Apakah engkau tidak beristirahat?”. Apa jawab Imam Ahmad? Beliau hanya mengatakan,”Istirahat hanya di Surga.”

8. Menjaga Ilmu dengan Menghindari Maksiat

Bagi para pencari ilmu, nasihat Imam Al Waqi’ kepada Imam As Syafi’i mengenai sulitnya menghafal, amatlah berharga. Imam Waqi’ menjelaskan bahwa ilmu adalah cahaya dari Allah, sehingga tidak akan pernah bersatu dengan jiwa yang suka bermaksiat.

9. Mengamalkan Apa yang Telah Diketahui

Karena ilmu dipelajari untuk diamalkan, maka pencari ilmu hendaknya bersegera mengamalkan apa yang telah ia ketahui dan pahami, jika itu berkenaan amalan-amalan yang bisa segera dikerjakan. Ali bin Abi Thalib mengatakan,”Wahai pembawa ilmu, beramallah dengan ilmu itu, barang siapa yang sesuai antara ilmu dan amalannya maka mereka akan selalu lurus.” (Riwayat Ad Darimi).


Fadhilah Ilmu  
 
Itulah rahasia yang telah diberikan Allah atas orang-orang yang berilmu. Dalam sebuah cerita dikisahkan, suatu hari Rosulullah Saw datang ke masjid. Di muka pintu masjid itu beliau melihat setan yang ragu ragu akan masuk. Lalu beliau menegurnya, “Hai setan, apa yang sedang kamu kerjakan di sini ?” Maka setan menjawab, “Saya akan masuk masjid untuk menggaggu orang yang sedang sholat. Tetapi aku takut kepada orang lelaki yang sedang tidur.” Segera baliau menjawab, “Hai Iblis, mengapa kamu tidak takut kepada orang yang sedang sholat menghadap Tuhannya, tetapi justru takut kepada orang yang sedang tidur ?.” Setan menjawab, “Betul, sebab orang yang sedang sholat itu bodoh sehingga mengganggunya lebih mudah. Sebaliknya orang yang sedang tidur itu adalah orang ‘alim, hingga saya kuatir seandainya saya ganggu orang yang sedang sholat itu, maka orang ‘alim itu terbangun dan segera membetulkan sholatnya.” Sebab peristiwa itu maka Rosulullah Saw bersabda, “Tidurnya orang ‘alim lebih baik dari pada ibadahnya orang bodoh.”  

Dalam sebuah hadits lain, Nabi bersabda, "Duduk di sisi 'Ulama selama satu jam lebih kugemari, dibanding ibadah selama 1000 tahun."

Nabi Muhammad S.A.W juga pernah bersabda dalam haditsnya, “Memandang wajah seorang 'alim adalah ibadah." [tho/www.hidayatullah.com]
  Read More...

Catatan kesibukan

Saat ini, yang mesti kita gugah adalah tentang seberapa besar kita menempatkan Allah dalam hidup kita dan seberapa besar kita mementingkan Sesuatu Yang Paling Berjasa dalam hidup kita. 


Sekarang coba amati catatan kesibukan kita. 

Apakah ada agenda “bertemu dengan Allah” 5 kali setiap hari? 

Apakah “perbincangan” dengan Allah kita agendakan 1 juz per hari? 

Apakah dalam catatan kesibukan kita ada “reminder” untuk bertemu secara khusus saat orang lain terbuai dalam kenikmatan yang sejajar dengan tanah?

Padahal siapa yang menolong kita ketika akan terjatuh? 

Siapa yang mendengar keluhan sekecil apapun kala orang lain menganggap itu hal biasa?

Siapa yang menegakkan kaki kita sehingga dapat berdiri dengan baik di hadapan orang lain?

Siapa yang….

Siapa yang…

Seberapa sibuk diri ini…,

Sehingga lupa bahwa ada hari esok untuk direncanakan…

Seberapa sibuk diri ini…,

Sehingga tak ingat bahwa ada yang terus memelihara nafas kita setiap saat 

Seberapa sibuk diri ini…,

Sehingga lebih gembira akan pujian manusia disbanding balasan dari Allah…

Seberapa sibuk diri ini…,

Sehingga merasa senang mengerjakan sesuatu karena kesombongan?

Seberapa sibuk diri ini…,

Sehingga tidak sempat memberi makanan pada ruh dan jasad kita?

Seberapa sibuk diri ini…,

Sehingga malas untuk mencari tahu keinginan Allah?

Seberapa sibuk diri ini…,

Sehingga tenggelam dalam akal tanpa bimbingan Rasul…

Lihat kembali catatan kesibukan kita….

Lihat kembali catatan kesibukan kita….

Lihat kembali catatan kesibukan kita….

Atur kembali catatan kesibukan kita…, sekarang!!!


“Hanya orang-orang yang mementingkan Allah yang akan dipentingkan oleh Allah…” 

(Al-Ankabut [29] : 69)

sumber : http://ceritadk.blogspot.com

Read More...

Selasa, 26 Mei 2009

Paus Mulai Aktiv Manfaatkan Facebook

Monday, 25 May 2009 01:21 

Umat Katolik di bawah Paus justru memanfaatkan situs-situs jejaring sosial untuk kegiatan misi

Hidayatullah.com--Paus Benediktus XVI mulai memasuki dunia jejaring sosial internet, dengan membuat situs baru yang tersambung ke Facebook.

Situs itu memperbolehkan pengunjung untuk mengunduh aplikasi ke IPhone guna mengakses video dan berita audio mengenai Paus.

Seperti dilaporkan Duncan Kennedy dari Roma, ini merupakan langkah terbaru dari Paus untuk memanfaatkan internet bagi penyebaran pesan gereja.

Situs baru itu bernama Pope-2-You dan memiliki koneksi portal Facebook maupun IPhone.

Ini memungkinkan pengguna Facebook untuk melihat foto dan menerima pesan Paus lewat kartupos virtual, dan menciptakan jaringan sosial seputar Paus, kata Gereja

Namun Paus tidak mencantumkan profil pribadinya di Facebook karena Gereja ingin menjaga citra Paus sebagai pelayan ummat bukannya pemimpin ummat.

Aplikasi untuk Iphone memberi kesempatan kepada pengguna untuk memantau kegiatan Paus maupun pidato-pidatonya.

Gereja mengatakan langkah Paus itu merupakan penyesuaian dengan abad 21 agar komunikasi dengan ummat tetap berjalan lancar.

Setelah Youtube lalu kini Facebook, mungkin tinggal menunggu waktu sebelum Paus ke fase terbaru dalam berkomunikasi di dunia maya, Twitter.

Di masa lalu Paus Benediktus memperingatkan bahwa jejaring sosial di dunia maya bisa membuat orang menjadi obsesif dan mengasingkan diri. [bbc/cha/www.hidayatullah.com]
  Read More...

Jumat, 22 Mei 2009

SALAM JIHAD UNTUK PARA PEJUANG DAKWAH KAMPUS

Mari! Marilah berpikir sejenak. Marilah merenungi tentang dakwah dan pergerakan. Mari luangkan waktu memikirkan Islam yang suci. Demi dakwah dan jamaa'ah, buanglah kesibukan duniawi. Raih keridhaanNya dengan berbuat lebih, lebih, dan lebih banyak lagi…

Dakwah kampus! Ikhwatifillah, kita adalah mahasiswa. Takdir kita adalah mahasiswa. Dakwah kampus adalah keniscayaan untuk kita. Pilihan Allah telah terjadi atas diri kita, menurut Allah kita adalah orang yang tepat untuk bekerja mensukseskan proyek Allah di kampus ini.

Pekerja?
Kita adalah pejuang yang bekerja, pekerja yang berjuang untuk Islam. Perjuangan itu adalah pengorbanan sebagaimana banyak yang berkata, pengorbanan untuk agama yang haq hingga akhir hayat. Itulah jalan kita…jalan yang pernah dilalui oleh para Nabi dan Rasul Allah.

Pengorbanan?
Pengorbanan…, tidak semudah mengucapkan katanya. Pengorbanan artinya ada yang dikorbankan. Tahap awal pengorbanan harus melalui dari 'mulai dari diri sendiri'. Singkat kata : Pengorbanan membutuhkan tekad kita untuk berkorban…DIRI KITA TERKORBANKAN ke dalam perjuangan dakwah.

Seperti apa?
Seperti apa kita harus berkorban. Terlalu banyak, terlalu banyak bila diuraikan. Minimal kita mampu berkorban untuk diri sendiri. Mengorbankan waktu-waktu kita untuk meng'hidup'kan Islam. Ada waktu kuliah yang sedikit terganggu, kegiatan pribadi yang mungkin terpinggirkan…Minimal itulah sederhananya pengorbanan kita.

Ikhwatifillah, pertemuan kita di dalam tulisan ini. Izinkan mata hati kita melirik perjuangan kita untuk dakwah kampus. Lirikan tajam menuju dakwah kampus yang massif. Pandangan serius mengevaluasi kerja-kerja dakwah kita. Mempertahankan perjuangan generasi saat ini dan melirik generasi pengganti. Itulah hakikat pergerakan kita…

Hakikat?
Ya, itulah hakikat dakwah…Dakwah kaderisasi dan regenerasi adalah kepastian. Penglihatan seorang kader berkualitas adalah penglihatan yang visioner. Pasti, visioner dalam mem'follow-up'i setiap kerja-kerja dakwah. Tentu, kita lebih dahulu mengevaluasinya.

Sejauh mana?
Sejauh mana kita telah memberi yang terbaik? Pertanyaan sederhana yang cukup mencemaskan kebanggaan jiwa… Bila ada suatu pengakuan bahwa kita adalah pejuang dakwah kampus saat ini maka pastikanlah bahwa ini bukanlah karena kita.

Kita adalah produk dakwah kaderisasi para pejuang sebelum kita. Kita hadir di sini, bersama bertemu menggalang kekuatan, berjuang dengan kumpulan semangat berapi-api…Semuanya bukanlah hasil kerja kita. Kita ada di sini sebagai hasil kerja generasi sebelum kita. Bukti sederhana bahwa mereka telah bekerja dengan baik?

Lalu, kerja kita mana?
Usikan hati yang terdesak oleh sebuah pertanyaan mungil…
Kerja kita mana? Kerja kita adalah generasi setelah kita. Lihat saja dan perhatikan kualitas generasi pejuang setelah kita. Perhatikan seksama semangat mereka, tidak hanya kualitas tetapi kuantitas juga diperlukan…

Intinya apa?
Intinya terletak pada kualitas kerja kaderisasi dan regenerasi yang kita lakukan. Tampilan produk generasi pengganti mencerminkan kesuksesan perjuangan, pengorbanan, dan segala sesuatunya yang pernah kita rintis…

Mengakhiri ucapan salam jihad ini, sekedar mengutip kalimat populer aktifis dakwah kampus demi menyemangati kita kembali…”dan dakwah kampus begitu indah”… keindahannya mempesona mengibaskan hawa segar untuk triple area hidup kita, mempesona terhadap akal kita, mempesona terhadap ruh dan jasad kita. ***

oleh: JHD (Jul Hasratman Daeli), Penulis lepas MCD FSLDK SUMBAR.
sumber: www.fsldkn.org
Read More...

alhamdulillah blog Insan cendikia ada....

alhamdulillah blog LDK Insan Cendikia sudah ada!!!

semoga Blog ini dapat menjadi media yang mendukung jalan da'wah kita.
kepada teman-teman yang ingin bertukar kabar, informasi atau ingin posting dapat menghubungi admin lewat e-mail:
  1. ldkinsancendikia@gmail.com
Read More...